Satria Muda Britama memutuskan untuk fokus pada kompetisi IBL dibanding Kejuaraan AntarKlub Asia di Kuwait, 8-16 Mei mendatang.
“Rasanya susah menggeser jadwal IBL. Jadi kami putuskan untuk fokus mempertahankan gelar,” kata Lucia Rufiana, General Manager Satria Muda.
Berat memang bagi SM untuk mengikuti kejuaraan tersebut. Mereka harus menjalani babak semifinal IBL, 3-6 Mei. Jika melaju ke final, mereka harus bertarung pada 17 Mei, sehari setelah penutupan kejuaraan Asia.
SM memperoleh tiket setelah sukses menjadi juara dalam SEABA Champions Cup. Di final, Amin Prihantono dkk. menundukkan juara bertahan Harbour Center Filipina. Dua klub ini berhak menjadi wakil Asia Tenggara dalam Kejuaraan Asia.
“Kami sudah mengusulkan pada PB Perbasi untuk tetap menggunakan jatah tiket ke Kejuaraan Asia. Mungkin dengan label IBL Selection atau apa pun namanya,” kata Rufi. Hal sama dilakukan Malaysia saat mengirim wakilnya ke SEABA Champions Cup dengan bendera National Basketball League (NBL).
Rufi menyebut keputusan ini sudah melalui pembicaraan internal manajemen SM dengan tim kepelatihan dan pemain SM. Mereka setuju dengan keputusan berkonsentrasi menghadapi kompetisi dalam negeri.
PB Perbasi menerima dengan baik usulan ini. “Kami akan membicarakannya dengan pihak klub-klub IBL. SM sudah bersedia menyertakan empat pemain mudanya. Mungkin tim-tim yang tak lagi berlaga di final IBL bisa memberikan pemain terbaiknya,” kata Ketua Umum PB Perbasi, Noviantika Nasution, Rabu (16/4) di Senayan. Ia bahkan berharap pemain-pemain muda disertakan ke ajang tersebut. SM sendiri menyatakan kesanggupan memberangkatkan empat pemain muda mereka, tentu bukan termasuk pemain inti yang dipersiapkan untuk mempertahankan gelar juara IBL.
Kesempatan menimba ilmu di level Asia sayang untuk dilewatkan. “Pasti ada manfaatnya berlaga dan memperoleh pengalaman di kejuaraan tersebut,” ujar Novi lagi.
Perbasi akan mengadakan pertemuan dengan Dewan Komisaris IBL, Kamis (17/4) di Kantor PB Perbasi kawasan Gelora Bung Karno, Senayan, Jakarta. Semula ada pula pemikiran untuk mengirim pemain-pemain muda Indonesia.
“Kami khawatir kalau tidak mengirimkan wakil, akan ada sanksi dari FIBA Asia,” kata Novi. Seandainya Satria Muda bisa berangkat dengan kekuatan penuh ditambah dua pemain asing andal, SM bisa berada dalam jajaran delapan besar Asia