Archive for the aboUt CoFFe Category

ENGARUH PENGGUNAAN PUPUK BOKASI PADA PERTUMBUHAN DAN PRODUKSI PADI PALAWIJA DAN SAYURAN

Posted in aboUt CoFFe on May 11, 2008 by uyeek

ENGARUH PENGGUNAAN PUPUK BOKASI PADA PERTUMBUHAN DAN PRODUKSI PADI PALAWIJA DAN SAYURAN

Perhatian masyarakat terhadap soal pertanian dan lingkungan beberapa tahun terakhir ini menjadi meningkat. Keadaan ini disebabkan karena semakin dirasakannya dampak negatif yang besar bagi lingkungan, dan jika dibandingkan dengan dampak positifnya bagi peningkatan produktivitas tanaman pertanian pengaruh bahan kimia tersebut tidak sebanding. Bahan-bahan kimia yang selalu digunakan untuk alasan produktivitas dan ekonomi ternyata saat ini lebih banyak menimbulkan dampak negatif baik bagi kehidupan manusia dan lingkungan sekitarnya.

Penggunaan pupuk, pestisida, dan bahan kimia lainnya yang terus menerus dapat merusak biota tanah, keresistenan hama dan penyakit, serta dapat merubah kandungan vitamin dan mineral beberapa komoditi sayuran dan buah. Hal ini tentunya jika dibiarkan lebih lanjut akan berpengaruh fatal bagi siklus kelangsungan kehidupan, bahkan jika sayuran atau buah yang telah tercemar tersebut dimakan oleh manusia secara terus menerus, tentunya akan menyebabkan kerusakan jaringan bahkan kematian.

Bertitik tolak dari hal tersebut, saat ini banyak masyarakat yang mengkonsumsi sayuran dan buah terutama komoditi segar yang bebas bahan kimia. Mereka lebih suka membeli sayuran dan buah yang bolong-bolong karena hama penyakit daripada sayuran dan buah segar yang mulus tetapi banyak disemprot bahan kimia. Melihat kecenderungan masyarakat tersebut, salah satu upaya yang dapat dilakukan dalam bidang pertanian adalah mengembangkan pertanian dengan sistem pertanian organic yang prinsip pengelolaannya “kembali ke alam”.

Pertanian organik merupakan bagian dari pertanian alami yang dalam pelaksanaannya berusaha menghindarkan penggunaan bahan kimia dan pupuk yang bersifat meracuni lingkungan dengan tujuan untuk memperoleh kondisi lingkungan yang sehat. Selain itu, juga untuk menghasilkan produksi tanaman yang berkelanjutan dengan cara memperbaiki kesuburan tanah melalui p[1]enggunaan sumberdaya alami seperti mendaur ulang limbah pertain. Jadi dengan demikian, tidak salah jika istilah pertanian organik sering diidentikkan dengan gerakan petanian yang kembali ke alam.

Dalam pelaksanaannya, pertanian organik adalah membatasi ketergantungan petani pada penggunaan pupuk anorganik dan bahan kimia pertanian lainnya. Gulma, hama dan penyakit tanaman dikelola melalui pergiliran tanaman, pertanaman campuran, bioherbisida, insektisida organik yang dikombinasikan dengan pengelolaan tanaman yang baik. Pupuk anorganik yang selalu digunakan petani dapat diganti dengan pupuk organik yang dapat dibuat sendiri dari bahan-bahan alami seperti penggunaan pupuk bokasi yang dapat dibuat dari bahan jerami dan sampah rumah tangga.

Berdasarkan hasil penelitian saat ini, apabila pertanian organik dapat dilaksanakan dengan baik maka dengan cepat akan memulihkan tanah yang sakit akibat penggunaan bahan kimia petanian. Hal ini terjadi jika fauna tanah dan mikroorganisme yang bermanfaat dipulihkan kehidupannya, dan kualitas tanah ditingkatkan dengan pemberian bahan organic, maka akan terjadi perubahan sifat fisik, kimia dan biologi tanah ke arah keseimbangan.

Pupuk Organik (Pupuk Bokashi)

Bahan dasar pupuk organik, baik dalam bentuk kompos maupun pupuk kandang dapat berasal dari limbah pertanian, seperti jerami, dan sekam padi, kulit kacang tanah, ampas tebu, batang jagung, dan bahan hijauan lainnya. Sedangkan kotoran ternak yang banyak dimanfaatkan adalah kotoran sapi, kerbau, kambing, ayam, itik dan babi. Disamping itu, dengan berkembangnya pemukiman, perkotaan dan industri makan bahan dasar kompos makin beranekaragam seperti dari tinja, limbah cair, sampah kota dan pemukiman.

Salah satu bentuk pupuk organik yang sekarang sedang banyak digunakan adalah pupuk bokashi. Bokashi adalah suatu kata dalam bahasa Jepang yang berarti “bahan organik yang telah difermentasikan”. Pupuk bokashi dibuat dengan memfermentasikan bahan-bahan organik (dedak, ampas kelapa, tepung ikan, dsb) dengan EM (Efektive Microorganism). Biasanya bokashi ditemukan dalam bentuk serbuk atau butiran. Bokashi sudah digunakan para petani Jepang dalam perbaikan tanah secara tradisional untuk meningkatkan keragaman mikroba dalam tanah dan meningkatkan persediaan unsur hara bagi tanaman. Secara tradisional bokashi dibuat dengan cara menfermentasikan bahan organic seperti dedak dengan tanah dari hutan atau gunung yang mengandung berbagai jenis mikroorganisme.

Akan tetapi , saat ini telah dikenal Bokashi EM yaitu bokashi dengan bahan organik yang difermentasikan dengan mikroorganisme efektif, bukan dengan tanah dari hutan atau gunung. EM yang digunakan dalam pembuatan bokashi adalah suatu kultur campuran berbagai mikriorganisme yang bermanfaat (terutama bakteri fotosintetik dan bakteri asam laktat, ragi, actinomycetes, dan jamur peragian) dan dapat digunakan sebagai inokulan untuk meningkatkan keragaman mikroba tanah. Penggunaan EM dalam pembuatan bokashi selain dapat memperbaiki kesehatan dan kualitas tanah juga bermanfaat memperbaiki pertumbuhan serta jumlah dan mutu hasil tanaman.

Pemikiran tentang penggunaan mikroorganisme efektif ini dikembangkan oleh Prof. Teruo Higa dari Jepang. Teruo telah menemukan mikroorganisme yang dapat hidup secara bersama dalam kultur campuran dan secara fisioligis dapat bergabung satu dengan yang lain. Menurutnya, bila kultur ini dimasukan dalam lingkungan alami, maka pengaruh baik masing-masing akan lebih berlipat ganda secara sinergis. Menurutnya juga, kultur EM tidak mengandung mikroorganisme yang telah dimodifikasi secara genetik, tetapi kultur ini merupakan campuran berbagai spesies mikroba yang terdapat dalam lingkungan alami di dunia.

Pengaruh Bokashi dalam Pertumbuhan dan Produksi Tanaman

Pada prinsipnya, peranan pupuk bokashi hampir sama dengan pupuk organik lainnya seprti kompos, namun pada bokashi EM pengaruhnya dipercepat dengan adanya penambahan mikroorganisme efektif. Bokashi dapat digunakan 3-14 hari setelah perlakuan (fermentasi). Bokashi dapat digunakan untuk meningkatkan pertumbuhan dan produksi tanaman meskipun bahan organiknya belum terurai seperti pada kompos. Bila bokashi dimasukan kedalam tanah, bahan organiknya dapat digunakan sebagai pakan oleh mikroorganisme efektif untuk berkembangbiak dalam tanah, sekaligus sebagai tambahan persediaan unsur hara bagi tanaman.

EM yang digunakan dalam pembuatan bokashi sangat berguna sekali dalam perbaikan sifat fisik, kimia dan biologi tanah, juga dapat menekan pertumbuhan hama dan penyakit yang merugikan tanaman. Dengan demikian penggunaan bokasi EM baik secara langsung maupun tidak, sangat berpengaruh terhadap pertumbuhan tanaman pertanian termasuk padi , palawija dan sayuran.

Penggunaan bokasi EM secara rinci berpengaruh terhadap:

- Peningkatan ketersediaan nutrisi tanaman

- Aktivitas hama dan penyakit/patogen dapat ditekan

- Peningkatan aktivitas mikroorganisme indogenus yang menguntungkan, seperti Mycorhiza, Rhizobium, bakteri pelarut fosfat, dll.

- Fiksasi Nitrogen

- Mengurangi kebutuhan pupuk dan pestisida kimia.

Dengan demikian, dapat terlihat bahwa penggunaan pupuk bokashi memiliki prinsip ekologi sebagai berikut:

- Memperbaiki kondisi tanah sehingga menguntungkan pertumbuhan tanaman terutama pengelolaan bahan organik dan meningkatkan kehidupan biologi tanah

- Optimalisasi ketersediaan dan keseimbangan daur hara, melalui fiksasi nitrogen, penyerapan hara, penambahan dan daur pupuk dari luar usaha tani.

- Membatasi kehilangan hasil panen akibat aliran panas, udara dan air dengan cara mengelola iklim mikro, pengelolaan air dan pencegahan erosi

Membatasi kehilangan hasil panen akibat hama dan penyakit dengan melaksanakan usaha preventif melalui perlakuan yang aman

Bertolak dari kegunaan dan prinsip ekologi dari penggunaan pupuk bokashi EM tersebut, maka dapat disimpulkan bahwa dengan tersedianya nutrisi tanaman yang cukup dan aktivitas hama dan penyakit yang dapat ditekan, pertumbuhan dan produksi tanaman pertanian dapat meningkat baik kualitas maupun kuantitasnya. Selain itu penggunaan pupuk ini juga ramah lingkungan, produk yang dihasilkan tidak tercemar oleh bahan-bahan kimia yang membahayakan kesehatan dan lingkungan.

Akhirnya, dapat kita simpulkan bahwa dalam rangka peningkatan produksi tanaman pertanian, penggunaan pupuk bokashi EM merupakan salah satu alternatif yang bijak, efektif dan efisien.**

TEHNIK PEMBUATAN BOKAsi

Posted in aboUt CoFFe on May 11, 2008 by uyeek

TEHNIK PEMBUATAN BOKAsi

Latar Belakang

Pembangunan pertanian secara alami yang ramah lingkungan saat ini banyak dilakukan untuk menghasilkan bahan makanan yang aman, serta bebas dari bahan-bahan kimia yang berbahaya dan beracun. Pembangunan pertanian alami ini semula hanya menerapkan sistem pertanian organik, tetapi ternyata hasilnya hanya sedikit. Dalam tahun 1980-an, Prof Dr. Teruo Higa memperkenalkan konsep EM atau Efektive Mikroorganisms pada praktek pertanian alami tersebut. Teknologi EM ini telah dikembangkan dan digunakan untuk memperbaiki kondisi tanah, menekan pertumbuhan mikroba yang menyebabkan penyakit, dan memperbaiki efisiensi penggunaan bahan organik oleh tanaman. Pada pembuatan bokashi sebagai salah satu pupuk organik, bahan EM meningkatkan pengaruh pupuk tersebut terhadap pertumbuhan dan produksi tanaman.

Beberapa pengaruh EM yang menguntungkan dalam pupuk bokashi tersebut adalah sebagai berikut:

- memperbaiki perkecambahan bunga, buah, dan kematangan hasil tanaman

- memperbaiki lingkungan fisik, kimia, dan biologi tanah serta menekan pertumbuhan hama dan penyakit dalam tanah

- meningkatkan kapasitas fotosintesis tanaman

- menjamin perkecambahan dan pertumbuhan tanaman yang lebih baik

- meningkatkan manfaat bahan organik sebagai pupuk

Berdasarkan kenyataan di lapangan, persediaan bahan organik pada lahan pertanian sedikit demi sedikit semakin berkurang. Jika hal tersebut tidak ditambah dan segera diperbaiki oleh petani maka penurunan produksi akan terjadi pada tanaman-tanaman pertanian, seperti padi, palawija dan sayuran.

Berbicara mengenai masalah penurunan produksi, tentunya bukan saja menjadi masalah petani atau masyarakat, tetapi juga merupakan masalah bagi pemerintah daerah dalam rangka mempertahankan ketahanan pangan dan ekonomi rakyat. Hal ini seyogyanya harus menjadi bahan pemikiran bagi pemerintah daerah dalam mengatasinya secara bijak.

Untuk dapat mengatasi hal tersebut, pada tahun anggaran 2003 ini Pemda Kabupaten Pandeglang secara khusus mengalokasikan dananya melalui Proyek Peningkatan Produksi Padi Palawija dan Sayuran. Pada kegiatan Proyek ini terdapat pertemuan teknis yang berisikan materi pengaruh penggunaan pupuk bokashi terhadap produksi padi palawija dan sayuran, dan materi tehnik pembuatan bokashi. Kegiatan ini tentunya bertujuan untuk menambah wawasan dan keterampilan petani dalam masalah penggunaan pupuk bokasi secara praktis di lapangan.

Manfaat Bokashi

Untuk meningkatkan dan menjaga kestabilan produksi pertanian, khususnya tanaman pangan, sangat perlu diterapkan teknologi yang murah dan mudah bagi petani. Tehnologi tersebut dituntut ramah lingkungan dan dapat menfaatkan seluruh potensi sumberdaya alam yang ada dilingkungan pertanian, sehingga tidak memutus rantai sistem pertanian.

Penggunaan pupuk bokashi EM merupakan salah satu alternatif yang dapat diterapkan pada pertanian saat ini. Pupuk bokashi adalah pupuk organik (dari bahan jerami, pupuk kandang, samapah organik, dll) hasil fermentasi dengan teknologi EM-4 yang dapat digunakan untuk menyuburkan tanah dan menekan pertumbuhan patogen dalam tanah, sehingga efeknya dapat meningkatkan pertumbuhan dan produksi tanaman.

Bagi petani yang menuntut pemakaian pupuk yang praktis, bokashi merupakan pupuk organik yang dapat dibuat dalam beberapa hari dan siap dipakai dalam waktu singkat. Selain itu pembuatan pupuk bokashi biaya murah, sehingga sangat efektif dan efisien bagi petani padi, palawija, sayuran, bunga dan buah dalam peningkatan produksi tanaman.

Bahan dan Cara Pembuatan Bokashi

a. Pembuatan Bokashi Pupuk Kandang

- Bahan-bahan untuk ukuran 500 kg bokashi :

1.

Pupuk kandang

=

300 kg

2.

Dedak

=

50 kg

3.

Sekam padi

=

150 kg

4.

Gula yang telah dicairkan

=

200 ml

5.

EM-4

=

500 ml

6.

Air secukupnya

- Cara Pembuatannya :

1. Larutkan EM-4 dan gula ke dalam air

2. Pupuk kandang, sekam padi, dan dedak dicampur secara merata

3. Siramkan EM-4 secara perlahan-lahan ke dalam adonan secara merata sampai kandungan air adonan mencapai 30 %

4. Bila adonan dikepal dengan tangan, air tidak menetes dan bila kepalan tangan dilepas maka adonan susah pecah (megar)

5. Adonan digundukan diatas ubin yang kering dengan ketinggian minimal 15-20 cm

6. Kemudian ditutup dengan karung goni selama 4-7 hari

7. Petahankan gundukan adonan maksimal 500 C, bila suhunya lebih dari 500 C turunkan suhunya dengan cara membolak balik

8. Kemudian tutp kembali dengan karung goni

9. Suhu yang tinggi dapat mengakibatkan bokashi menjadi rusak karena terjadi proses pembusukan

10. Pengecekan suhu sebaiknya dilakukan setiap 5 jam sekali

11. Setelah 4-7 hari bokashi telah selesai terfermentasi dan siap digunakan sebagai pupuk organik

b. Pembuatan Bokashi Jerami Padi

- Bahan-bahan untuk ukuran 1000 kg bokashi :

1.

Jerami padi yang telah dihaluskan

=

500 kg

2.

Pupuk kotoran hewan/pupuk kandang

=

300 kg

3.

Dedak halus

=

100 kg

4.

Sekam/Arang Sekam/Arang Kelapa

=

100 kg

5.

Molase/Gula pasir/merah

=

1 liter/250 gr

6.

EM-4

=

1 liter

7.

Air secukupnya

- Cara Pembuatannya:

Membuat larutan gula dan EM-4

1. Sediakan air dalam ember sebanyak 1 liter

2. Masukan gula putih/merah sebanyak 250 gr kemudian aduk sampai rata

3. Masukan EM-4 sebanyak 1 liter ke dalam larutan tadi kemudian aduk hingga rata.

Membuat pupuk bokashi

1. Bahan-bahan tadi dicampur (jerami, pupuk kandang, arang sekam dan dedak) dan aduk sampai merata

2. Siramkan EM-4 secara perlahan-lahan ke dalam adonan (campuran bahan organik) secara merata sampai kandungan air adonan mencapai 30 %

3. Bila adonan dikepal dengan tangan air tidak menetes dan bila kepalan tangan dilepas maka adonan masih tampak menggumpal

4. Adonan digundukan diatas ubin yang kering dengan ketinggian minimal 15-20 cm

5. Kemudian ditutup dengan karung berpori (karung goni) selama 3-4 hari

6. Agar proses fermentasi dapat berlangsung dengan baik perhatikan agar suhu tidak melebihi 500 C, bila suhunya lebih dari 500 C turunkan suhunya dengan cara membolak balik

7. Suhu yang tinggi dapat mengakibatkan bokashi menjadi rusak karena terjadi proses pembusukan

8. Setelah 4-7 hari bokashi telah selesai terfermentasi dan siap digunakan sebagai pupuk organik.

c. Pembuatan Bokashi Cair

- Bahan-bahan untuk ukuran 200 liter bokashi cair :

1.

Pupuk kotoran hewan/pupuk kandang

=

30 kg

2.

Molase/Gula pasir/merah

=

1 liter/250 gr

3.

EM-4

=

1 liter

4.

Air secukupnya

- Cara Pembuatannya:

1. Isi drum ukuran 200 liter dengan air setengahnya

2. Pada tempat yang terpisah buat larutan molase sebanyak 1 liter, dengan cara mencampurkan gula putih/merah sebanyak 250 gram dengan air sebanyak 1 liter

3. Masukan molase tadi sebanyak 1 liter bersama EM-4 sebanyak 1 liter ke dalam drum, kemudian aduk perlahan-lahan hingga rata

4. Masukan pupuk kandang sebanyak 30 kgdan aduk perlahan-lahan hingga ersatu dengan larutan tadi

5. Tambahkan air sebanyak 100 liter hingga drum menjadi penuh, kemudian aduksampai rata dan tutup rapat-rapat

6. Lakukan pengadukan secara perlahansetiap pagi selama 4 hari. Cara pengadukan setiap hari cukup lima putaran saja. Setelah diaduk biarkan air larutan bergerak sampai tenang lalu drum ditutup kembali

7. Setelah 4 hari bokashi cair EM-4 siap untuk digunakan.

Catatan:

Bila tidak ada molase, setiap macam gula dapat digunakan sebagai penggantinya. Beberapa bahan pengganti tersebut adalah nira tebu gula, sari (juice) buah-buahan,dan air buangan industri alkohol

Jumah kandungan air adalah merupakan petunjuk. Jumlah air yang perluditambahkan tergantung pada kandungan air bahan yang digunakan. Jumlah air yang paling sesuai adalah jumlah air yang diperlukan membuat bahan-bahan basah tetapi tidak sampai berlebihan dan terbuang.

Penggunaan Pupuk Bokashi untuk Padi, Palawija dan Sayuran

Bahan bokashi sangat banyak terdapat di sekitar lahan pertanian, seperti misalny jerami, pupuk kandang, rumput, pupuk hijau, sekam padi, sebuk gergaji, dan lain-lain.

Semua bahan organik yang akan difermentasi oleh mikroorganisme frmentasi dalam kondisi semi anaerobik pada suhu 40-500 C. Hasil fermentasi bahan organik berupa senyawa organik mudah diserap oleh perakaran tanaman.

a. Cara penggunaan secara umum :

- 3-4 genggam bokasi (150-200 gram) untuk setiap mtr persegi tanah disebar marata diatas permukaan tanah. Pada tanah yang kurang subur dapat diberikan lebih.

- Untuk mencampurkan bokashi ke dalam tanah, tanah perlu dicangkul/bajak. Penggunaan penutup tanah (mulsa) dari jerami atau rumput-rumputan kering sangat dianjurkan pada tanah tegalan. Pada tanah sawah pemberian bokashi dilakukan sebelum pembajakan tanah.

- Biarkan bokashi selama seminggu, setelah itu baru bibit ditanam.

- Untuk tanaman buah-buahan, bokasi diebar merata dipermukaan tanah/perakaran tanaman dan siramkan 3-4 cc EM-4 perliter air setiap minggu sekali.

b. Cara penggunaan secara khusus :

- Bokashi jerami dan bokashi pupuk kandang baik dipakai untuk melanjutkan fermentasi penutup tanah (mulsa) dan bahan organik lainnya di lahan pertanian juga banyak digunakan pada tanah swahkarena ketersediaan bahan yang cukup.

- Bokashi jerami dan bokashi pupuk kandang baik dipakai untuk pembibitan/ menanam bibit yang masih kecil.

-

Bokashi expres baik digunakan sebagai penutup tanah (mulsa) pada tanaman sayur dan buah-buah

Guide Review – i-Roast 2 Home Coffee Roaster

Posted in aboUt CoFFe on May 11, 2008 by uyeek

Guide Review – i-Roast 2 Home Coffee Roaster

We all know that buying whole beans is the best way to have your coffee fresh. All you need is a grinder. Well, the next step in ultimate coffee freshness is to not only grind your own, but also roast the beans yourself.

The i-Roast 2 is a handy little counter-top coffee bean roaster that worked great for me on my first attempt to roast my own beans. It doesn’t roast a large amount of coffee, but then again you only want enough that can be used right away.

Though you can use the digital controls to roast your beans precisely to your personal preference, there are 2 simple pre-set roasts for easy use. One for a lighter roast, and one for a darker roast.

All you need to do, is add 1/2 to 1 cup of unroasted (green) coffee beans into the canister and snap the lid on. Choose your roast settings and let it do it’s thing. It’s a little loud, and there is definitely alot of hot air vented out the top. I didn’t find much smoke at all. None, really. The roasting cycle was about 12 minutes, and then the beans continue to spin and cool. They were at room temperature when the cycle was complete.

I ground the beans and brewed myself a cup right away. I think I might be hooked on home roasting. The coffee had excellent flavour and was much bolder than what I usually have. The i-Roast made it much easier than I would have thought to roast my own beans.

coffee

Posted in aboUt CoFFe on May 11, 2008 by uyeek
Coffee
A cup of coffee.
Type Hot Beverage
Manufacturer Varied
Country of origin Ethiopia
Introduced (around) 800 AD

Coffee is a widely-consumed stimulant beverage prepared from roasted seeds, commonly called coffee beans, of the coffee plant. Coffee was first consumed in the 9th century, when it was discovered in the highlands of Ethiopia.[1] From there, it spread to Egypt and Yemen, and by the 15th century had reached Armenia, Persia, Turkey, and northern Africa. From the Muslim world, coffee spread to Italy, then to the rest of Europe and the Americas.[2] Today, coffee is one of the most popular beverages worldwide.[3]

Coffee berries, which contain the coffee bean, are produced by several species of small evergreen bush of the genus Coffea. The two most commonly grown species are Coffea canephora (also known as Coffea robusta) and Coffea arabica. These are cultivated in Latin America, Southeast Asia, and Africa. Once ripe, coffee berries are picked, processed, and dried. The seeds are then roasted, undergoing several physical and chemical changes. They are roasted to varying degrees, depending on the desired flavor. They are then ground and brewed to create coffee. Coffee can be prepared and presented by a variety of methods.

Coffee has played an important role in many societies throughout modern history. In Africa and Yemen, it was used in religious ceremonies. As a result, the Ethiopian Church banned its consumption until the reign of Emperor Menelik II of Ethiopia.[4] It was banned in Ottoman Turkey in the 17th century for political reasons, and was associated with rebellious political activities in Europe.

Coffee is an important export commodity. In 2004, coffee was the top agricultural export for 12 countries,[5] and in 2005, it was the world’s seventh largest legal agricultural export by value.[6]

Some controversy is associated with coffee cultivation and its impact on the environment. Many studies have examined the relationship between coffee consumption and certain medical conditions; whether the effects of coffee are positive or negative is still disputed

CAra TEpAT miNUm kOPi DAn TEh

Posted in aboUt CoFFe on May 11, 2008 by uyeek

Sejak beberapa tahun lalu, masyarakat terutama di kota besar di Indonesia mulai dijangkiti wabah minum kopi dan teh di luar rumah.

Kedai-kedai kopi dan teh yang cukup mewah makin banyak bermunculan. Sebut saja “Bakoel Koffee”, “Mister Bean Coffee” hingga “Starbucks, The Coffee Bean & Tea Leaf.” Saat ini, peminum kopi (belum sampai tahap penikmat) memang masih lebih banyak dibandingkan peminum teh.

Pengunjung kedai kopi memang makin banyak, tapi cara minumnya kebanyakan masih keliru. “Cara minum kopi dan teh orang Indonesia memang masih salah. Kita sering senyum-senyum sendiri melihat mereka minum,” ujar Robby Sabaruddin Roestam, Manajer Pemasaran “The Coffee Bean & Tea Leaf”.

Umumnya mereka masih membubuhkan begitu banyak gula ke dalam kopi atau teh. Padahal, penambahan gula justru akan mengurangi cita rasa kopi maupun teh. Hal itu menurut Tattie Salas Honosutomo, memang berkait erat dengan selera individu.

Penggunaan gula boleh saja, tapi sebaiknya tidak terlalu banyak. “Kalau tidak ditambah gula memang terasa pahit. Jadi gula bisa ditambahkan, tapi sedikit saja. Supaya tidak terlalu pahit, bisa pula ditambahkan krim atau susu,” terang perempuan yang bisa menghabiskan 10 cangkir kopi sehari.

Rasa pahit yang ditimbulkan kopi sebenarnya tidak lama. “Kopi yang bagus dalam roasting-nya, rasa pahitnya hanya 15 detik dalam tenggorokan. Setelah itu akan hilang,” jelas Robby, yang sudah menjadi penikmat teh ini. Itu sebabnya, minum kopi biasanya akan dilengkapi dengan kue.

Cara minum kopi maupun teh yang tepat juga tidak seperti yang banyak terjadi saat ini. “Tidak asal teguk begitu,” ujar Robby maupun Tattie. Menurut mereka, minum kopi dan teh yang benar sama caranya dengan minum anggur. Pertama kali adalah mencium aromanya. Kemudian saat diminum tidak langsung ditelan, tapi dikulum terlebih dahulu untuk dikecap.

“Dari sini akan terasa body dari teh atau kopi, mulai dari keharuman sampai keasamannya,” ujar Robby sambil mempraktikkan cara minum teh. Karena caranya seperti itu, para penikmat kopi tidak pernah merokok. “Kalau mulut serta hidung sudah penuh dengan nikotin, bagaimana bisa mendeteksi kopi yang enak?” ujarnya.

Selain itu, roasting (pemasakan biji kopi semacam proses sangrai) juga akan mempengaruhi bagus tidaknya kopi. Yang bagus adalah biji kopi yang sudah disangrai langsung digiling untuk kemudian diproses, entah menggunakan perculator ataupun coffee maker.

Di kedai kopi “The Coffee Bean & Tea Leaf” misalnya, membuat kopi dengan cara steam. Melalui mesin yang diberi nama Michael Angelo, uap panas akan disemprotkan ke kopi sehingga akan muncul ekstrak yang disebut espresso. Minum espresso bisa membuat denyut jantung naik, karena ini memang biangnya kopi. Mereka yang tidak tahan pahit biasanya akan memberi tambahan susu. “Kalau diberi susu atau latte, jadi macchiato. Kalau diberi air panas jadi americano,” terangnya.

Kalaupun ada yang sensitif dengan kafein, bisa mencoba yang kadar kafeinnya sudah berkurang (decaf). “Biasanya tinggal 20 persen,” ujar Robby. Namun, ada juga yang nyaris tidak berkafein. “Kalau minum kopi tapi nggak ada kafein, ya bukan kopi namanya,” tambah Tattie.

Tingkat Aman Konsumsi Kafein
Secara umum, konsumsi kafein yang aman kurang dari 300 mg setiap hari. Ini setara dengan :
3-4 cangkir kopi giling
5 cangkir kopi instan
5 cangkir the
6 minuman berkola
10 tablet obat pereda rasa nyeri

Sebuah penelitian yang dilakukan di London menunjukkan bahwa konsumsi kafein rata-rata sekitar 428 mg per hari, dengan kisaran 230 mg – 670 mg. Konsumsi kafein umumnya digolongkan menjadi tiga bagian

Pengguna rendah bila konsumsi kurang dari 200 mg per hari.
Pengguna sedang dengan konsumsi 200-400 mg per hari.
Pengguna tinggi bila konsumsi kafein lebih dari 400 mg per hari.
Hati-Hati Bila Sudah Sakit

Bagaimanapun juga, konsumsi kafein, terutama dari kopi, bisa menimbulkan masalah pada orang yang sudah mengidap penyakit seperti berikut :
Orang dengan tukak lambung. Kafein dapat meningkatkan kadar asam dalam lambung. Kondisi ini akan membuat tukak semakin parah dan memperlambat proses penyembuhan. Jadi sebaiknya orang dengan tukak lambung tidak minum kopi. Konsumsi teh masih diperbolehkan.
Orang dengan hipertensi. Kafein dapat melebarkan pembuluh darah, sehingga bisa meningkatkan tekanan darah yang sudah tinggi.
Orang dengan penyakit jantung. Kafein akan membuat detak nadi semakin cepat.

Kopi dan Teh, Turunkan Risiko Terkena Kanker Ginjal

Posted in aboUt CoFFe on May 11, 2008 by uyeek

Kopi dan Teh, Turunkan Risiko Terkena Kanker Ginjal

teh bisa meningkatkan sensitivitas tubuh
teh bisa meningkatkan sensitivitas tubuh

Penggemar kopi dan teh mungkin boleh sedikit tenang. Sebab, mengonsumsi kedua jenis minuman ini ternyata bisa menurunkan risiko kanker ginjal.

Pernyataan ini diungkapkan dari hasil penelitian para peneliti Harvard Medical School di Boston, dari hasil analisis terhadap 13 studi yang dilakukan sebelumnya, bahwa, kopi dan teh memberikan perlindungan efektif untuk melawan kanker ginjal. Sedangkan susu, soda, dan jus terlihat tidak memiliki efek yang sama.

Hal itu juga diperkuat dengan hasil studi terhadap orang yang meminum tiga atau lebih cangkir kopi per hari, ternyata mampu mengurangi 16% pertumbuhan kanker ginjal dibandingkan orang yang rata-rata minum kurang dari secangkir kopi per hari.

Hasil penelitian itu juga mengungkapkan, meminum secangkir atau 8 ons teh per hari memiliki khasiat 15% menurunkan risiko penyakit itu dibandingkan orang yang tidak meminum teh. Penemuan ini telah dipublikasikan dalam jurnal ilmiah, International Journal of Cancer.

Pemimpin Tim Penelit
i, Dr Jung Eun Lee menyatakan, ada banyak alasan mengapa minuman bisa memberikan manfaat. Salah satu contohnya kopi dan teh yang bisa meningkatkan sensitivitas tubuh dalam pengaturan gula darah hormon insulin. Para peneliti menduga bahwa level insulin yang berlebihan bisa berefek pada risiko kanker ginjal.

Selain itu, kopi dan teh mengandung antioksidan yang bisa membantu melindungi sel dalam ginjal dari kerusakan akibat kanker. Dalam studi mereka, para peneliti mengkombinasikan hasil dari 13 studi jangka panjang yang termasuk di dalamnya ada responden 530.469 wanita dan 244.483 pria.

Tiap-tiap studi mengumpulkan informasi dari partisipan tentang diet mereka yang dilakukan mereka selama 7–20 tahun.

Konsumsi kopi dan teh memang terkait berkurangnya risiko kanker ginjal, bahkan para peneliti menghitung beberapa faktor yang membuat masyarakat berisiko atas penyakit ini, misalnya akibat obesitas,merokok,atau tekanan darah tinggi.

“Hasil penelitian kami menemukan bahwa konsumsi kopi dan teh tersebut terkait dengan rendahnya risiko kanker ginjal, sedangkan konsumsi susu, jus, dan soda tidak terkait dengan risiko tersebut,” tutur para peneliti.

Mereka menyatakan, studi lebih lanjut dibutuhkan untuk memahami mengapa kopi dan teh membantu melindungi tubuh untuk melawan kanker ginjal. Dalam penelitian lainnya, ternyata meminum teh secara umum dianggap tidak memiliki efek menurunkan risiko kanker ovarium.

Namun, dalam studi di China yang mayoritas penduduknya mengonsumsi teh hijau, Dr Bin Wang dan koleganya mencatat kecenderungan jumlah kasus kanker ovarium yang menurun berkorelasi dengan meningkatnya durasi meminum teh.

Secara tidak langsung, menurut para peneliti, mungkin ada perbedaan penting antara studi yang dilakukan di China dengan Barat, yang kebanyakan penduduknya mengonsumsi teh hitam. Wang yang berasal dari Universitas Medis Nanjing di Jiangsu-China dan koleganya melihat keterkaitan antara meminum teh dengan risiko kanker ovarium.

Berdasar pernyataan para peneliti dalam American Journal of Obstetric and Gynecology,mereka menggunakan pengelompokan bukti dari delapan studi yang dikembangkan di negara-negara Barat dan satu dari studi di China.

Konsumsi teh dalam studi ini bervariasi, antara secangkir sebulan hingga empat cangkir atau lebih per hari.

kopi mengandung antioksidan
kopi mengandung antioksidan

“Penemuan kami, ternyata mengonsumsi teh hitam tidak mendukung penurunan risiko kanker ovarium,” ujar Wang.

Para peneliti menambahkan bahwa teh hitam dan hijau bisa jadi menunjukkan keterkaitan yang berbeda dengan kanker ovarium. Secara parsial, mungkin disebabkan metodeproduksiberbedayangdigunakan untuk teh hitam dan hijau,yang menghasilkan komposisi kimia berbeda pula. Meski demikian, tandas Wang, berbagai macam faktor lain, yakni lingkungan, genetik, hormon, dan gaya hidup menjadi penyebab munculnya kanker ovarium. (rtr/ly)

CoFFee

Posted in aboUt CoFFe on March 19, 2008 by uyeek

kopi

Secangkir kopi

Secangkir kopi

Kopi adalah sejenis minuman, biasanya dihidangkan panas, dan dipersiapkan dari biji dari tanaman kopi yang dipanggang. Saat ini kopi merupakan komoditas nomor dua yang paling banyak diperdagangkan setelah minyak bumi. Total 6,7 juta ton kopi diproduksi dalam kurun waktu 1998-2000 saja. Diperkirakan pada tahun 2010, produksi kopi dunia akan mencapai 7 juta ton per tahun ( dari FAO ). Kopi merupakan sumber utama kafein.

 Sejarah

Sejarah kopi dapat ditelusuri jejaknya dari sekitar abad ke-9, di dataran tinggi Ethiopia. Dari sana lalu menyebar ke Mesir dan Yaman, dan kemudian pada abad limabelas menjangkau lebih luas ke Persia, Mesir, Turki dan Afrika utara.

Pada awalnya kopi kurang begitu diterima oleh sebagian orang. Pada tahun 1511, karena efek rangsangan yang ditimbulkan, dilarang penggunaannya oleh para imam konservatif dan othodoks di majelis keagamaan di Makkah. Akan tetapi karena popularitas minuman ini, maka larangan tersebut pada tahun 1524 dihilangkan atas perintah Sultan Selim I dari Kesultanan Utsmaniyah Turki. Di Kairo, Mesir, larangan yang serupa juga disahkan pada tahun 1532, di mana kedai kopi dan gudang kopi ditutup.

Dari dunia Muslim, kopi menyebar ke Eropa, di mana minuman ini menjadi populer selama abad ke-17. Orang Belanda adalah yang pertama kali mengimpor kopi dalam skala besar ke Eropa, dan pada suatu waktu menyelundupkan bijinya pada tahun 1690, karena tanaman atau biji mentahnya tidak diijinkan keluar kawasan Arab. Ini kemudian berlanjut pada penanaman kopi di Jawa oleh orang Belanda.

Ketika kopi mencapai kawasan koloni Amerika, pada awalnya tidak sesukses di Eropa, karena dianggap kurang bisa menggantikan alkohol. Akan tetapi, selama Perang Revolusi, permintaan terhadap kopi meningkat cukup tinggi, sampai para penyalur harus membuka persediaan cadangan dan menaikkan harganya secara dramatis; sebagian hal ini karena didasari oleh menurunnya pesediaan teh oleh para pedagang Inggris. Minat orang Amerika terhadap kopi bertumbuh pada awal abad ke-19, menyusul terjadinya perang pada tahun 1812, di mana akses impor teh terputus sementara, dan juga karena meningkatnya teknologi pembuatan minuman, maka posisi kopi sebagai komoditas sehari-hari di Amerika menguat.

Jenis biji kopi

Ada dua spesies dari tanaman kopi; Arabika adalah kopi tradisional, dan dianggap paling enak rasanya, Robusta memiliki kafein yang lebih tinggi dapat dikembangakan dalam lingkungan di mana Arabika tidak akan tumbuh, dan membuatnya menjadi pengganti Arabika yang murah. Robusta biasanya tidak dinikmati sendiri, dikarenakan rasanya yang pahit dan asam. Robusta kwalitas tinggi biasanya digunakan dalam beberapa campuran espresso.
Kopi Arabika biasanya dinamakan oleh dermaga di mana mereka diekspor, dua yang tertua adalah Mocha dan Jawa. Perdagangan kopi modern lebih spesifik tentang dari mana asal mereka, melabelkan kopi atas dasar negara, wilayah, dan kadangkala ladang pembuatnya.

Satu jenis kopi yang tidak biasa dan sangat mahal harganya adalah sejenis robusta di Indonesia yang dinamakan kopi luwak. Kopi ini dikumpulkan dari kotoran luwak, yang proses pencernaanya memberikan rasa yang unik.